Langsung ke konten utama

TUHAN JUGA MENULIS!

Oleh: Habibah Syarifah

MENULIS; Ia hanya satu kata sederhana yang siapapun bisa melakukannya. Kata tersebut memiliki awalan “Me-“ yang artinya melakukan suatu tindakan/perbuatan, dengan kata dasar “tulis”. Jika dipadukan, maka arti dari “Menulis” adalah melakukan suatu tindakan yang menghasilkan suatu tulisan. Konon, kata ini adalah kata yang paling populer, sebab digunakan oleh berbagai kalangan di dunia. Bukan hanya bertindak sebagai sebuah kata, tetapi juga sebagai sebuah tindakan yang tidak bisa tidak digunakan hampir di seluruh dunia dan bagian-bagiannya.
Semua orang wajar jika menulis. Entah itu muda atau tua, tak bisa melihat atau tak dapat berbicara, sempurna atau tidak sempurna, pasti menulis. Ia seolah menjadi proses kehidupan yang biasa saja. Namun, tidak bagi orang-orang yang sadar bahwa menulis adalah nafasnya. Seperti seorang yang bisu, tak mampu berhubungan dengan siapapun tanpa membawa sebuah pena dan buku, untuk berbicara tentunya, karena tak semua orang mampu memahaminya ketika berbicara dengan bahasa isyarat. Begitu juga, orang-orang yang menyadari bahwa menulis adalah separuh jiwanya, memiliki banyak hal untuk dikatakan, dan tidak mungkin semuanya disampaikan melalui lisan. Oleh karena itu, mereka disamakan dengan orang-orang yang bisu.
Tidak semua orang yang melakukan tindakan menulis, dapat disebut sebagai “Penulis”, atau benar-benar menulis. Semua tergantung dari motif apa yang bersemayam dalam jiwa mereka. Ada yang hanya sekedar menulis catatan di bangku sekolah dan kuliah, menyalin data-data keuangan di tempat kerja, menyalin tulisan ke papan tulis di depan siswa, atau bahkan hanya sekedar menulis status galau di facebook, tempat curhat anak muda.
Seseorang dikatakan benar-benar menulis dan disebut sebagai penulis, adalah yang memiliki niat sejati untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat. Sebagaimana kata-kata yang sering didengar, “Segala sesuatu itu tergantung niatnya”. Jadi, jika tidak ada niat, maka bukan menulis namanya.
Meskipun seseorang telah memiliki predikat “benar-benar menulis”, ternyata masih ada saja banyak niat terselubung di dalamnya. Salah satunya adalah ingin dikenal. Sebagian besar dari mereka ada yang memiliki niat ingin dikenal tulisannya atau malah justru orangnya (dan yang kedua ini banyak yang dimiliki oleh sebagian penulis). Seorang penulis dengan nama pena Tere Liye pernah berpendapat dalam statusnya, “Penulis itu seharusnya yang terkenal adalah tulisannya. Penulisnya? Lupakan. Tidak penting juga kita kenal.” Lalu, kalau begitu, mengapa harus menulis?
Tuhan juga Menulis.
Itu pernyataan yang tak dapat disangkal oleh semua manusia yang bertuhan. Buktinya? Ada kitab-kitab suci di berbagai agama. Itulah mengapa, dapat disebut bahwa menulis merupakan bagian dari perbuatan Tuhan. Sebagai manusia yang percaya akan keberadaan-Nya, tentu selalu ingin meneladani segala sifat dan perbuatan-Nya. Bukan untuk menyamai, tapi memang bagian dari anjuran-Nya sebagai jalan untuk menempuh hidup yang bahagia. Lalu, mengapa tidak menulis jika Tuhan saja menulis? Mengapa tidak berpena jika Tuhan saja berpena?
Salah satu potongan hadits nabi yang termaktub dalam “Hadits Arba’in Nawawi” riwayat Muslim dikatakan, “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering”. Maka, giliran manusia yang menajamkan pena, mengerahkan seluruh ilmunya, menebak apa yang telah dituliskan Tuhan untuknya. Ya, menulis dengan tujuan karena-Nya.
Nabi Muhammad juga “Menulis” lewat para Sahabatnya.
Siapa bilang nabi tidak bisa menulis? Kalau dilihat secara lahir, memang betul beliau tidak punya kemampuan menulis dan membaca. Namun bukan berarti tidak bisa. Beliau punya banyak sahabat yang dijadikannya sebagai juru tulis. Setiap hari, ada banyak hikmah yang disabdakan, dan disebarkan dengan surat berbentuk tulisan, perintah langsung dari utusan Tuhan. Tak heran jika sampai sekarang, ada ratusan bahkan ribuan hadits yang tersebar, yang murni perkataan-perkatan dari nabi. Bahkan, bisa dibilang, nabi Muhammad-lah manusia yang “benar-benar menulis”. Sebab, apa yang beliau sabdakan tidak hanya sekedar tulisan, tapi ide-ide yang diperoleh dengan ilham. Murni, bukan sekedar karangan. Maka, mengapa masih enggan menirunya?
Allah berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أسوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al Ahzab 21)
Para Sahabat pun Menulis.
Bacalah biografi para sahabat nabi. Maka di sana akan ada banyak bukti bahwa hidup mereka tak lepas dari menulis. Seperti yang telah diketahui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang selalu kehausan akan ilmu, dan menulis adalah bagian darinya, sebagai ladang dakwah, juga sejarah. Maka tak heran jika sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka, tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Dan, terbukti mereka masih dikenali namanya, karena ada banyak karya yang dihasilkan di zaman mereka. Karya tersebut berupa kata-kata mutiara, tafsir al Quran, undang-undang hukum, dan syarah hadits perkataan nabi, yang dijadikan acuan para ulama’ setelahnya dalam membuat karya. Mengasyikkan bukan? Maka, mengapa masih tidak menulis?
Menulis itu Pengikat Ilmu.
Menulis itu tidak melulu soal cerita dan puisi. Adakalanya, berupa catatan-catatan ilmu, motivasi, hikmah, dan sebagainya. Nah, mengapa hal-hal seperti itu harus ditulis? Coba simak perkataan Imam Syafi’i berikut, “Ikatlah ilmu dengan pengikat yang kuat.”, dan pengikat itu adalah tulisan. Mengapa harus diikat? Kalau tidak diikat, nanti terlepas dan hilang entah ke mana. Makanya, menulis itu penting, sebagai bagian dari proses mencari ilmu, juga proses membaginya, dan membuatnya bermanfaat bagi umat. Lantas, bagaimana lagi kalau tidak menulis?
Menulis dapat Menolak Lupa, Penawar Rindu, Ekspresi Cinta, dan Obat Sakit Hati
Setiap orang pasti punya banyak kenangan yang tak ingin dilupakan. Meski ada jalan lain dengan mengabadikannya dengan sebuah kamera, tetap saja, hal-hal seperti perkataan batin tak dapat diabadikan kecuali melalui tulisan. Sebab, menulis membuatnya selalu ingat apa yang pernah ia katakan di masa lampau, apa yang pernah digoreskannya, dan apa yang terjadi di dalamnya, sebagai acuan, juga bekal perjalanan, dalam hidup kelak di masa depan.
Menulis dapat membuat hati yang sedang merindu tidak terluka. Ia membantu mengurangi rasa gelisah yang membuncah di dada. Setiap kali pena menggores, di saat itu pula, orang atau sesuatu yang dirindukan ikut hadir. Makanya, bisa dibilang, menulis itu penawar rindu. Ia seolah dapat menyampaikan pesan langsung pada yang dituju. Tak hanya itu, ia juga dapat menjadi cara mengekspresikan cinta. Terkadang, saat seseorang memutuskan untuk mencintai dalam diam, lebih indah dikatakan dengan tulisan. Daripada makin sesak, lebih baik ditulis kan?
Bukan hanya rasa cinta saja yang membuat sesak dada. Rasa sakit hati yang hampir semua orang pernah mengalami, juga bisa. Coba rasakan bedanya, ketika menulis amarah lewat pena, dengan melampiaskan amarah lewat suara. Ia dapat menghasilkan karya bermanfaat, membagikan hikmah yang banyak bagi umat, daripada lewat suara yang sama sekali tak berguna, malah justru memberi mudarat.
Hidup di Dunia ini Cuma Sekali!
Ada sebuah kata-kata yang sering dilontarkan oleh trainer ESQ, “Hidup cuma sekali, hiduplah yang berarti!”. Di dunia, kalau bukan menghasilkan karya, apalagi? Menghasilkan harta, nanti tidak dibawa mati. Hidup biasa-biasa saja? nanti mati tanpa arti, bahkan kehilangan sebuah nama. Makanya, karena hidup di dunia ini cuma sekali, alangkah baiknya menjadikan hidup ini penuh arti. Salah satu caranya adalah meninggalkan karya. Apalagi jika karya tersebut dapat membawa diri sendiri dan orang lain menuju surga. Allah berfirman,
وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَّأبْقَى
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”  (QS. Al A’la 17)


Jadi, jika nabi Muhammad, para sahabat, juga para ulama menulis, mengapa aku dan kamu tidak? Jika mereka para pencinta, yang merindu, yang sedang sakit hati, pun menulis (meski kadang lewat facebook), mengapa aku dan kamu tidak? Apalagi, yang jelas-jelas diketahui: TUHAN JUGA MENULIS, gaes! Maka, ingatlah kembali kata-kata ini: “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering”. Ya, Tuhan telah selesai menulis semua hal tentang dunia, manusia, dan agama. Sekarang, giliran kita ciptaan-Nya yang merangkai kata, mengikat ilmu, dan sesekali berperan menjadi Tuhan. So, tajamkan pena sekarang juga, sebelum Dia yang memaksa kita mengangkat pena.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewan Juri Umumkan Peserta Terbaik PTQ tingkat RRI Semarang 2016

Ketua Dewan Juri, Dr. Buyut Effendi, Lc, MA, akhirnya mengumumkan para pemenang dari tiga cabang lomba kategori putra dan putri dalam Pekan Tilawatil Quran (PTQ) tingkat RRI Semarang, Senin (23/5). Dia mengatakan, “Para peserta terbaik ternyata telah terbukti penampilannya di tingkat nasional.” (Baca:  Asna, 7 Besar AKSI Indosiar 2015, Juarai Lomba Tausiyah dalam Pekan Tilawatil Quran tingkat RRI Semarang ) Para pemenang lomba Pekan Tilawatil Quran (PTQ) tingkat RRI Semarang 2016 Berikut adalah nama-nama peserta terbaik yang telah diumumkan Senin kemarin: Cabang Lomba Tilawah Kategori Putra Juara 1 Rohman Mufid Juara 2 Tatang Kyube Juara 3 Zulfikar Rizki Effendi Kategori Putri Juara 1 ‘Uyunil A’izzah Juara 2 Noura Asy Syarifah Juara 3 Nur Hamna Cabang Lomba Tausiyah Kategori Putra Juara 1 M. Minanurrahman Juara 2 Fikri Abdullah Juara 3 Susanna Aditya Wangsanata Kategori Putri Juara 1 Nur Askhonah Juara 2 Al Mar’atus Sholihah Juara 3 Dessy Ana Roifa Cabang Lomba C...

Pekan Tilawatil Quran (PTQ) tingkat RRI Semarang 2016 Resmi Dibuka

Ketua LPP RRI resmi membuka Pekan Tilawatil Quran tingkat RRI Semarang (23/05) SEMARANG - Pekan Tilawatil Quran (PTQ) ke-47 tingkat RRI Semarang resmi dibuka oleh ketua LPP RRI Semarang pukul 10.00 WIB di auditorium RRI Semarang. Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1437 H. Cabang lomba yang dibuka adalah Cerdas Cermat al Quran (CCQ), Tausiyah, dan Tilawah. Tiga cabang lomba ini diikuti oleh berbagai lembaga dan institusi pendidikan di daerah Semarang dan sekitarnya. (Baca Juga:  RRI Semarang Adakan Pekan Tilawatil Quran ) Ketua   LPP RRI Semarang, Ari, mengatakan, “Peminat lomba Pekan Tilawatil Quran tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Peserta tilawah putra terdiri dari 14 orang, putri 8 orang. Peserta tausiyah putra 14 orang, putri 21 orang. Adapun peserta CCQ ada 3 regu.” Rencananya, peserta terbaik 1 putra-putri kategori lomba Tilawah, akan langsung mewakili RRI Semarang di Pekan Tilawatil Quran tingkat Nas...

“Singkap-ungkap Poligami dalam al Quran”

Oleh: Syarifah Habibah, Mahasiswi Tafsir dan Hadits UIN Walisongo Semarang Ilustrasi: Pro-Kontra Poligami di kalangan wanita Ketika seorang perempuan ditanya, “Kamu mau nggak dimadu?” maka pasti yang keluar dari mulutnya hanyalah teriakan kata, “Tidaaaak!”. Namun, para perempuan justru ketakutan dan tak bisa mengelak ketika ia dihadapkan dengan ayat yang begini terjemahannya: “ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’: 3) Jangankan perempuan muslim, perempuan-perempuan non-muslim juga sangat menolak ayat ini. Terlebih, kaum feminis, menjadikan ayat ini sebagai senjata untuk menyerang umat Islam yang dikatakan merendahkan perempuan. Mereka menyatakan bahwa Islam tidak adil dalam memperlakukan perempuan. Namun, mirisnya, ada sekelompok orang yang menerima dengan ikhlas mengenai poligami yang mereka anggap itu “dianjurkan”. Bahkan, sekelompok orang ini adalah berjenis kelamin perempuan. Awalnya, mereka memang tidak...